Total Tayangan Halaman

Rabu, 05 September 2012

Riwayat Kepangkatanku

Maaf ini data pentingku.

Riwayat Kepangkatan P
No
Gol
TMT
Pangkat
Jabatan
1
CPNS
1 Maret 1986


2
III/a
1 Maret 1988
Penata Muda
Guru Madya
3
III/b
1 April 1990
Penata Muda Tk I
Guru Madya Tk I
4
III/c
1 April 1993
Penata
Guru Dewasa
5
III/d
1 Oktober 1996
Penata Tk I
Guru Dewasa Tk I
6
IV/a
1 April 2000
Pembina
Guru Pembina

Karpeg
No.E.201485


SD
31/12/1970
SPG
10/12/1977
SMP
7/12/1971
S1
12/8/1982
ASKES
No 003752.6



Riwayat Kepangkatan E
No
Gol
TMT
Pangkat
Jabatan
1
CPNS
1 Maret 1986


2
III/a
1 Maret 1988
Penata Muda
Guru Madya
3
III/b
1 April 1989
Penata Muda Tk I
Guru Madya Tk I
4
III/c
1 April 1993
Penata
Guru Dewasa
5
III/d
1 Oktober 1996
Penata Tk I
Guru Dewasa Tk I
6
IV/a
1 April 2000
Pembina
Guru Pembina




Karpeg
No E.201 486


SD
13/12/1972
SPG
5/3/1979
SMP
1/12/1975
S1
14/1/1984
ASKES
No.003789.3
Akta IV
14/1/1984




Jumat, 03 Agustus 2012

Selalu Berharap Menjadi Bijak


    1. Hidup mesti harus berjalan.Berjalannya bukan ditentukan oleh berapa lama kita hidup tetapi bagaimana kita hidup. Sehingga begitu kita lahir masih merupakan kertas putih. (John Lock) Namun tentu orang-orang di sekitar kita akan membawanya ke suatu tempat kita diasuh. Saa itu kita di hadapkan pada percaya atau tidak percaya kepada mereka. Kita selalu berharap ada orang lain yang selalu membuat kita percaya. Pembicaraannya, kata-katanya membuat kita percaya. Kepercayaan dibangun bukan hanya kata, tetapi kenyataan. Kita terus berupaya membuktikan perkataan orang lain. Kalau sesuai dengan kenyataan, orang-orang yang pembicaraannya dapat dipercaya akan menjadi panutan kita.

    2. Ketika semua orang di sekitar kita mempunyai kesibukan sendiri, kita dihadapkan pada kemandirian kita. Bisa tidak ya saya hidup dan mengerjakan pekerjaan ini? Muncul juga keraguan. Kalau dukungan teman-teman kita yang baik, tentu kita akan diangkat pada kemandirian. Semua tidak menggantungkan orang lain tetapi kita sendiri saja dapat menjalani. Mengapa bukan kita yang mengerjakan? Kita mempunyai keinginan. Dan keinginan inilah yang menjadikan kita semakin dewasa dalam bertindak.

    3. Keinginan ini semakin lama semakin berkembang membuat kia semakin banyak punya inisiatif. Lalu kita mencoba ini mencoba itu. Nah juga pernah gagal. Juga mungkin pernah merasa bersalah. Juga pernah menyesal. Juga mungkin putus asa. Wah bagaimana ternyata aku salah. Muncullah kemauan untuk mencapai tujuan. Wah tidak larut aku harus bisa mencapai prestasi.Lalu aku mulai hati-hati mengerjakan untuk mencapai tujuan.


    4. Setelah sedikit pekerjaan yang diserahkan pada kita kita kerjakan, orang lainlah yang akan menilai kita. Baik tidak pekerjaan kita? Bagaimana kita? Rendah diri, merasa tak pantas di hadapan sesama kita apalagi di hadapan Tuhan. Kita sama sekali tak mengerti apa kehendak saudara-saudara kita. Kita hanya menyerah saja. Bahkan kalau ada tawaran untuk maju kita diam saja. Kita merasa hal itu bukan untuk diri kia. Hal itu untuk orang lain yang selalu aktif mau menerima tawaran  untuk maju, untuk bangkit. Namun kalau demikian terus yang kita laksanakan kita akan mampu berbuat sesuatu. Kita akan tergantung orang lain. 
    5. Tentu saja kita tidak langsung mendapatkan terang. Kita hadapi saat itu krisis identitas. Kita masih seolah tak punya identitas. Aku itu siapa? Mungkin juga tidak disadari. Aku mau menjadi seperti siapa? Kita lalu meniru siapa saja. Gurunya gondrong, ya ditiru saja. Tulisan saja berubah-ubah. Nah setelah pertemanan kita kita temukan orang yang setia.  Kita akan bangkit dari krisis dan kita mendapatkan bimbingan rohani yang kuat. Rohani kita dapat mulai bangkit dan percaya diri.
    6. Tantangan yang kita hadapi jatuh cinta. Akan kita jatuhkan di mana cinta yang sudah kita bawa ke mana-mana itu. Dari banyak pergaulan yang terkesan dan tidak terkesan tentu ada yang terkesan baik dan dapat diandalkan. Tentu yang kita cari cinta sejati, menurut ukuran kita saat itu.
     7. Tentu kalau kita sudah merasa menemukan cinta sejati kita, kita akan membangun sebuah komunitas. Dari sebuah komunitas ini akan terjadi kebangkitan atau kemajuan atau mau mundur? Maju terus atau berhenti saja? Terus... Berhenti... Semuanya membawa kita pada pengambilan keputusan. Tentu kita mencari orang-orang yang mau peduli terhadap kesulitan saat itu. Kepedulian mau menerima kita apa adanya.
     8.Kalau kita terus menjalani tentu kita akan memilih yang lebih baik lebih berkualitas. Hanya kita akan menemui juga kekecewaan. Dan kekecewaan akan membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Kekecewaan demi kekecewaan membuat kita akan memilih yang paling bijaksana.

Selasa, 26 Juni 2012

Keluarga Handono dan Pratomo

Ini tampang keluarga Suhandono dan Pratomo saat menerima tamu perkawinan keluarga Amin tahun 2012
Sugeng rawuh

Senin, 25 Juni 2012

Kebijaksanaan Orangtua yang Sibuk

Seorang bapak yang sedang sibuk bekerja. Tiba-tiba anak laki-lakinya datang. Bapak tadi lalu mengeluarkan uang yang diberikan anak tadi. Kata anak, "Tidak pak, aku tidak butuh uang." Lalu bapak tadi mengeluarkan coklat. "Tidak juga." "Lalu apa yang kamu minta?" tanya bapaknya. Jawab anak itu, "Saya hanya ingin bersama bapak."
Cerita di atas menggambarkan bagaimana seorang anak yang merindukan kebersamaan dengan bapaknya yang selalu sibuk dengan dunianya. Namun anak sangat tahu apa yang ia butuhkan sehingga walaupun uang dan makanan tak membuat ia pergi dari sisinya.

Minggu, 24 Juni 2012

Data Pengguna Narkoba 2011


Seperti yang diberitakan Kompas.com, 26 Juni 2011. BNN melaporkan pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Terlihat angka yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Saya ga tau  benar atau ga data ini, yang jelas data ini dikeluarkan BNN.
Pada umumnya pengguna narkoba di kota-kota besar di Indonesia sangat tinggi. Namun saat ini sudah merambat ke kota lainnya di Indonesia. Sebut saja di Jambi, seperti yang diberitakan jambi- independent.co.id , 27 Oktober 2011. Sampai akhir Maret 2011 ini, pengguna narkoba di Jambi tercacat sebanyak 50.420 orang. Angka tersebut naik tajam dari 44.627 pengguna pada tahun 2008. Dalam kurun waktu dua tahun saja, kenaikan pengguna narkoba di Jambi mencapai 5.793 orang. Jumlah ini menjadikan Jambi menduduki urutan ke 6 pengguna narkoba di Indonesia.
Di Sulawaesi Selatan, seperti diberitakan tribunnews.com, 10 Oktober 2011. Dari data yang dikeluarkan Badan Narkotik Nasional tahun 2010 menyebutkan sebanyak 121.756 dari 5.968.421 warga Sulawesi Selatan usia 10-59 tahun yang menggunakan narkoba. Di Sulawesi Utara, angka pengguna narkoba mencapai 40.000 Orang. Sebagaimana diberitakan oleh beritamanado.com, Sabtu, 24 September 2011.
Siapa pengguna barang haram itu ? Seperti diberitakan detik.com, 26 Juni 2011. Kepala BNN Gories Mere mengatakan bahwa pada umumnya pekerja swasta, wiraswasta dan buruh di atas 30 tahun dengan tingkat pendidikan terbanyak SLTA. Tentu saja ancaman terbesar ada pada kalangan siswa pelajar yang berjumlah 3,8 juta pada tahun 2010.
Lebih heboh lagi, pengguna narkoba ternyata digunakan oleh PNS. Seperti diberitakan melalui situs Kementerian PAN & RB, menpan.go.id, 1 Juli 2011.  Komisi Nasional Pengawasan Kinerja Pemerintahan (Komnas PKP) mensinyalir, kurang lebih 30 persen aparatur negara atau pegawai negeri sipil (PNS), baik di pusat dan daerah, mengkonsumsi zat adiktif yang mengandung narkotika dan obat terlarang. Jika total jumlah PNS di Indonesia mencapai 4,7 juta jiwa, maka ada sekitar 1,5 juta aparatur negara yang terlibat kasus penggunaan Narkoba.
Coba anda perhatikan baik-baik jumlah pengguna narkoba seperti yang saya sebutkan di atas, yang di diambil langsung dari sumber pemberitaannya.  Kalo jumlah pelajar 3,8 juta pada 2010 , kemudian PNS 1,5 juta  Jumlahnya sudah mencapai 5,3 juta sendiri. Lalu berapa jumlah pekerja swasta, wiraswasta dan buruh di atas 30 tahun yang menurut Goris sebagian besar itu   Jelas-jelas tiga kelompok ini sudah berbeda, pelajar, karyawan swasta dan pemerintah. Terjadi penurunan tiba-tiba di 2010 ? Ah mungkin detik.com salah menyampaikan ulasan Goris, yang dimaksud 3,8 juta itu mungkin prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yag terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) di tahun 2010. Masa sih ? Lalu prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2010 yang dikatakan 4,2 juta jiwa  yang disebutkan  Hahaha, berita pada bulan yang sama, tanggal dan tahun yang sama, kok bisa beda ?
Sebulan kemudian, melalui depdagri.go.id, 10 Agustus 2011  Pada tanggal 8 Agustus, kembali Goris mengakatakan bahwa, kerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sangat  strategis. Sebab, fakta menunjukkan dari 3,81 juta pengguna narkoba di Indonesia. Entah yang dimaksud tahun berapa, tetapi karena beritanya tahun 2011  saya menganggap jumlah yang disebutkan Goris tersebut adalah laporan BNN sampai dengan Agustus 2011 untuk prevalensi pengguna narkoba tahun 2011. Lalu bagaimana dengan prevalensi tahun 2011 yang dilaporkan BNN pada bulan Juni 2011 yang menyebutkan sekitar 5 juta pengguna di atas ? Jumlah pengguna Narkoba tahun 2011 naik apa turun ? apa turun naik ? hahaha. wah..wah, entah Goris yang salah omong atau yang nulis berita yang salah atau kurang lengkap.
Baiklah kalo masing-masing ada alasannya, namun data yang terlapor terlalu tinggi selisihnya. Mana yang merupakan jumlah sebenarnya dan mana yang berdasarkan hasil survei. Secara rata-rata BNN selalu menggunakan hasil survei. Saya khawatir kalo data saja sudah ga bener, apalagi penanganannya di lapangan. Buat pak Goris, yang mana nih yang benar ? Tolong dong rapikan pemberitaannya dan setidaknya melalui satu pintu, jangan sampai simpang siur begini.  Gimana mau bersih narkoba tahun 2015 ? Datanya yang bersih kali yaa hehehe

Data Aborsi

WHO memperkirakan ada 4,2 juta aborsi dilakukan per tahun, 750.000 – 1,5 juta dilakukan di Indonesia, 2.500 orang diantaranya berakhir dengan kematian (Wijono, 2000)
Berita buruk 2: Setiap tahun ada 2.000.000 aborsi pada remaja Indonesia.

Untuk yang Muda

Seorang bapak yang tinggal di panti jompo bercerita mengapa ia sampai di sini. Katanya ia dahulu seorang kaya raya dengan tiga anak. Ketika ditinggal mati istrinya, anak pertama mengusulkan kalau rumah dan pekarangannya dijual lalu bapak tinggal bersama anak-anak. Bapak tadi mengikuti usulan anak-anaknya. Setelah rumah tadi dijual, bapak ikut anak pertama. Ia kesepian karena setiap hari ia hanya dilayani pembantu. Ia hanya betah dua bulan. Ia pindah ke anak kedua. Di sana bapak ini tak boleh berbuat apa-apa karena takut merusak perabotan rumah yang mahal-mahal. Ia pindah ke anak ketiga. Di sana ia disarankan ke panti jompo saja supaya ada teman curhatnya.