Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Agustus 2011

Ibuku Sayang

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas ibu ibu
ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas ibu ...ibu ...


Rabu, 10 Agustus 2011

Penen Padi I

Sampai tanggal 10 Agustus 2011 ini, 15 bidang sawah milik BKM sudah dipanen. Yang setor ke aku baru empat orang,
Pak Jujung Rp 720.000,00 , Pak Zaman 2 bidang Rp 800.000 + Rp 680.000 , dan Pak Sudiarto Rp 840.000,00= Rp 3.040.000,00 Uang sebesar itu diurangi untuk makan saat pertemuan tanggal 19 Juli 2011 sebesar Rp 225.000,00. Sehingga sisanya 2.815.000,00. Hasil panen yang lain masih dibawa Pak Samsuri ketua BKM.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Mengolah Sampah

Jika ada waktu luang aku gunakan untuk mengolah sampah daun di pekarangan rumah. Sampah daun dicacah dimasukkan ke komposer. Kami punya dua komposer lalu diberi multiorganisme cair yang dibuat sendiri supaya cepat menjadi pupuk kompos.


Sabtu, 25 Juni 2011

Kegiatan di Rumah

Selama liburan semester II tahun 2011 ini waktu digunakan untuk membersihkan kebun rumah. Sampah dicacah dan dibuat kompos.

Jadwal Kegiatan Juni Juli

Rencana tg 29 Juni mengikuti Purbalingga Open bulutangkis Veteran B main double bersama Pak Heri Kertosari.  Tg 3 Juni penerima tamu di tempat Pernikahan Mbak Inda padahal diminta mengatur team Paroki Agustinus antar paroki di Paroki Purbalingga.

Renungan 26 Juni 2011

Renungan ini dimuat di Mekum 26 Juni  2011
Kejujuran Kian Mahal
Seorang ibu bernama Siami, ibunda Alifah, siswa SDN 2 Gadel Tendes, Surabaya, melaporkan bahwa anaknya diajari nyontek  saat ujian nasional oleh gurunya. Karena itu ia dan keluarganya diusir dari tempat tinggalnya  yang sebagian besar masyarakat menghendaki ketidakjujuran.  Hal ini sungguh  menggambarkan masyarakat yang kelaparan makanan rohani. Mereka telah mengingkari kejujuran. Mereka tersesat tak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
Hal itu sebuah contoh keberanian membela kebenaran karena hasil ujian nasional bukan dinilai pada besarnya  tetapi tergantung prosesnya. Nilai 9 kalau hasil mencontek berarti masih nilai semu. Fisiknya 9 tetapi diperoleh dengan cara-cara yang tidak mendengarkan suara Tuhan. Dalam bacaan I kita dihadapkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.
Siami sebagai salah satu sosok kejujuran yang sudah langka di tengah masyarakat. Masyarakat kita yang heterogen ini sudah kehilangan panutan, artinya tak ada satu ikatan kebersamaan yang baik yang menggambarkan suara Tuhan. Anak-anak begitu mudah diajak nyontek oleh gurunya. Gurunya juga sudah begitu menghalalkan segala cara agar sekolahnya kelihatan baik. Padahal seharusnya murid dan guru bersatu berani melaksanakan ujian dengan jujur.
Nah apakahh kita berani jujur, sebagai guru, pedagang, pengusaha, petani, buruh, bahkan sebagai orangtua, sebagai anak seperti yang diungkapkan Siami di atas? Apakah kita sebgai murid Kristus berani membela kejujuran? Bapa yang hidup mengutus  Kristus yang berani mengungkapkan kejujuran. Ia datang menjadi roti rohani sekaligus jasmani demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   Yoh 6:58  Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Bahkan tak akan takut oleh ujian macam-macan karena hasil dan prosesnya sangat memuaskan walaupun penuh dengan penderitaan. (Pratomo)