Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Maret 2011

Hidup adalah Perjuangan

Bekalku hanya semangat
aku datang ke tempat ini tak bawa bekal apa-apa
sepotong pakaian dan bekal semangat dan sedikit ilmu
kulangkahkan kakiku menginjak tanah ini

Cintaku Semakin Kuat karena-Nya

Setiap nafasku cintaku, cinta kalian dan cinta-Nya
setiap waktuku hanya untuk-Mu
setiap itu juga pikiranku terganggu karena-Mu
istri dan anak-anakku adalah batu karangku pijakan hidupku
namun itu belumlah cukup
karena mereka pun tak ubahnya sepertiku
begitu masih rapuh tanpa-Mu
karena itu Sang Penciptalah yang harus menjadi batu pijakanku
yang akan lebih menguatkan aku
Marilah kita berdoa kepada-Nya
agar kita semakin kuat menjadi pijakan anak cucu kita.
Purbalingga, 6 Maret 2011

Tanah Bengkok

      Sebagai ketua RT 02 Rw 04 tahun 2011 saya mendapatkan tanah bengkok 2 bidang dari Kelurahan Bojong. Namun tanah ini tidak saya garap sendiri. Satu bidang saya serahkan bapak-bapak RT utnuk dijual. Dan yang satu saya serahkan ibu-ibu PKK untuk digarap. Saya diskusikan dengan bapak-bapak, tetapi mereka mintanya dijual saja, kira-kira laku satu juta rupiah padahal harus membayar lelang Rp 510.000,00. Sehingga kas bapak-bapak hanya mendapatkan Rp 490.000,00. Kalau ibu-ibu PKK minta tanah itu untuk digarap saja bagi hasil walau pun hanya dapat 40% dan yang menggarap mendapatkan 60%. Mudah-mudahan ide ini mendapat sambutan yang baik, karena menurutku kerja menjadi ketua Rt tidak perlu mendapatkan upah karena kerja sosial.

Sabtu, 05 Maret 2011

Mari Kita Bedoa

Istriku
Mari kita berdoa
mendoakan anak-anak kita dan  saudara-saudara kita
dan seluruh hidup kita ini doa
kita persembahkan kepada Tuhan
kita pasrahkan kepada Sang Pencipta
hanya Ia lah yang dapat menyelamatkan kita
kita syukuri anugerah yang diberikan kepada kita
kita usahakan karya-karya yang diserahkan kepada kita
kita serahkan kegelisahan-kegelisahan kita
karena kita percaya itu semua untuk menguji apakah kita tetap tabah menjalani
kehidupan ini secara nyata dan tetap menyembah kapada-Nya
Istriku
tetaplah menolong anak-anak yang tertinggal
jangan kita biarkan mereka merana
Tuhan akan selalu menolong kita.

Kamis, 03 Maret 2011

Kerasulan Awam Pendidikan di Paroki Santo Agustinus Purbalingga

 
Ditulis oleh Pratomo Hadi P.

       Paroki Purbalingga berdiri 1 September 1936. Pada hari itu, Rm. Neyens MSC mulai menetap dan melayani umat di Purbalingga. Sebelumnya pelayanan ikut Purwokerto. Sejak tahun 1935 para suster SND sudah memiliki karya pendidikan bagi sinyo dan noni Belanda. Jumlah umat pada saat itu hanya sekitar 60 orang (kebanyakan Belanda). Menurut seorang karyawan SMP Santo Borromeus, Yayasan Bhakti Mulia mengelola SGB Bhakti Mulia sampai dengan 1 Agustus 1961. Kemudian SGB Bhakti Mulia berubah  menjadi SMP Santo Borromeus dan baru 25 Juli 1988 kepengurusan diserahkan kepada Yayasan Santa Maria Pekalongan. Yayasan Santa Maria mengelola TK Santa Maria, SD Pius dan SMP Santo Borromeus.
Peran awam di TK dan SD sebagian besar menjadi guru yang bertugas mengajar sedangkan guru yang diserahi bertugas tambahan sebagai kepala sekolah yaitu Fx Rasam dan Al Suminto dan tugas sebagai kepala sekolah lainnya diampu oleh suster-suster yang ditugaskan dari Yayasan Santa Maria Pekalongan. Saat ini murid di SD Pius berjumlah 237 siswa sebagian besar beragama Kristen dan Katolik dengan diampu 20 orang guru dan 5 karyawan.
Sedangkan di SMP Santo Borromeus sejak awal yang diserahi kepala sekolah adalah guru awam bukan biarawan yaitu: 1) M Tjiong Gwan (Purbalingga 6/2/1932) menjadi kepala sekolah 1961-1994. Motto yang ia miliki: Banyaklah berdoa dan rajin belajar maka surga terbuka bagimu. 2) Heribertus Sutarsana (Bantul, 25-4-1963) menjadi kepala sekolah 1994-2004. Motto yang ia miliki adalah sesuatu yang baik harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan dengan niat yang baik. 3) F. Supriyanto Ari Broto SPd. Menjadi kepala sekolah 2004-2009. Mottonya adalah setiap alumni SMP Santo Borromeus berjuang menjadi pribadi yang mencintai Tuhan berguna bagi sesame, bekerja serius dan berani belajar dari orang lain. 4) Drs. Ignatius Yelli Widiyanto (Purbalingga, 31 Juli 1966) menjadi kepala sekolah dari 2009 sampai saat ini. Pesan hidupnya: ”Hidup adalah sebuah pilihan maka bertanggung jawablah kepada hidup dan pilihanmu.
 Sampai saat ini SMP Santo Borromeus mempunyai siswa sebanyak 185 dengan didampingi 17 orang guru di antaranya seorang suster. Sebagian besar muridnya beragama Kristen dan Katolik.
Tahun 1979  Rm. Wahyobawono Pr. ditugaskan Purbalingga (sampai tahun 1984) memprakarsai berdirinya SMA Santo Agutinus. SMA Santo Agustinus berdiri tahun 1981 dengan membentuk Yayasan Santo Agutinus yang diketuai Antonius Setia Hadi sampai sekarang walau pernah digantikan oleh Soenadi BA (Alm). Yang pernah menduduki jawaban kepala sekolah SMA Santo Agustinus adalah:

1. Romanus Sirken BA           1 Juli 1981         - 15 Februari 1989
2.
Fx Yitno Puspohandoyo Pr 15 Februari 1989- 1 Januari 1990
3. Drs. Yosef Ngadirun           1 Januari 1990   - 1 Agustus 1997
4. Drs. Andang Isuraha           1 Agustus 1997 - 1 April 1998
5. Drs. Herman Yulianto          1 April 1998     - 1 Agustus 1999
6. Drs. Samuel Inuhan Balkari  1 Agustus 1999 - 23 Agustus 2003
7. Drs. Pratomo Hadi P.           23 Agustus 2003 - 2013
8. Ignatius Sukardiyo,B.A.      2013-2016 dan diperpanjang lagi sampai sekarang 2017 masih menjabat.
Saat ini tahun 2013 SMA Santo Agustinnus mempunyai 72 siswa dengan diampu 20 guru dan 6 karyawan dan selalu mendapat perhatian dari Mgr Julianus Sunarko dan romo Paroki Santo Agustinus untuk dikembangkan menjadi sekolah yang bergerak di bidang pendidkan dan sosial dan juga menolong anak-anak yang berprestasi namun orangtuanya tidak mampu secara ekonomi.

Rumah Kita

Ini bukan rumahku malinkan rumah kita
karena kita bangun dengan tetsan darah kita
tetesan keringat kita, dan tetsan air mata kita

Ini juga bukan rumahku
karena siapa pun boleh masuk rumah kita
silakan saja karena ada 5 pintu yang dapat dipakai
untuk masuk ke rumahku
tiga pintu dari depan
satu pintu dari belakang begandengan dengan rumah tetangga belakang
satu puntu dari samping juga bergandengan dengan tetangga samping

rumah kita tempat kita berbincang-bincang
tentang kehidupan
tentang masa depan
tentu tentang kita

Selasa, 01 Maret 2011

Cincin Kawin Kita

Cicin Kawin Kita

Istriku
cincin kawin kita telah terjual
untuk membeli rumah dan pekarangan kita
tentu saja masih kurang ...
sehingga kita bayar dengan keringat kita ... darah kita dan kerja kita ...
dan sekarang bukan hanya melingkar di jari-jari kita
melainkan di seluruh tubuh kita
setiap kali kita bersama-sama .... di sanalah cincin kawin kita
dan aku tak pernah menyesalinya ... ternyata rumah kita lebih berharga
dan di sanalah kita tinggal dan bersuka ria bersama anak-anak kita
Purbalingga, 2 Maret 2011

Rumah Kita
Kita telah menempati rumah ini
dari kita tak punya apa-apa kecuali satu stel pakaian
kita usahakan bersama sampai-sampai cincin kawin kita kembalikan kepada penjualnya
Istriku
kita telah 28 tahun bersama hidup dan tinggal di dalamnya
semakin hari rasanya semakin senang saja
semakin hari rinduku semakin tebal
begitu kau tak di sampingmu aku rasanya sangat kesepian ...
rasanya semakin ketakutan ...
namun begitu kau datang ... kaulah cahaya hidupku
rumah kita menjadi terang...
menjadi bercahaya
menjadi nyaman
menjadi damai
tentu bersama anak-anak kita
Purbalingga, 2 Maret 2011